ORANG TUA NABI…


1012751_290394104439775_744644265_n

Dalam kitab Shahihnya Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits :

عن أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أبي قال في النَّارِ فلما قفي دَعَاهُ فقال إِنَّ أبي وَأَبَاكَ في النَّارِ ]صحيح مسلم – (1/ 191[( Dari Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Ya, Rasulullah, dimanakah ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ Dia di neraka” . Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.(HR Muslim)

Dalam bagian lain dari kitabnya, Imam Muslim meriwayatkan hadits :

عن أبي هُرَيْرَةَ قال زَارَ النبي صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى من حَوْلَهُ فقال اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي في أَنْ أَسْتَغْفِرَ لها فلم يُؤْذَنْ لي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ ]صحيح مسلم – (2 / 671 [(

Dari Abi Hurairah, berkata : Nabi SAWberziarah ke kubur ibunda Beliau, kemudian Beliau menangis, dan membuat mereka yang ada di sekelilingnya menangis, maka Nabi bersabda “ Aku meminta izin pada tuhanku untuk memohonkan ampun bagi Ibuku akan tetapi tidak dikabulkan, dan aku meminta idzin untuk menziarahinya kemudian aku diidzinkan, maka berziarahlah kalian karena dapat mengingatkan kalian akan kematian” (HR Muslim)
Benarkah kedua orangtua Nabi r adalah penghuni neraka ? Kami Menjawab:Kaum Asy`ariah, dan jumhur Syafi’iyah menetapkan bahwa mereka yang wafat pada masa fatrah (sebelum diutusnya rasul) termasuk golongan yang selamat hal ini berdasarkan firman Allah SWT :

..وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا) الإسراء : ( 15 )(

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Orang tua Nabi wafat sebelum Beliau diutusnya sebagai rasul, berarti mereka termasuk ahli fatrah yang selamat dari adzab. Lagipula tidak ada keterangan yang jelas bahwa mereka pernah melakukan perbuatan syirik. Bahkan Imam Fakhur Razi t menyatakan bukan hanya kedua orang tua Nabi r saja yang selamat akan tetapi seluruh datuk-datuk beliau sampai Nabi Adam AS (1), ini sesuai dengan firman Allah SWT :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ) الشعراء : ( 219 – 218)

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi r dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.Imam Alusi dalam tafsir Ruhul Ma`ani ketika berbicara mengenai ayat وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ berkata, “ Aku menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi r sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak daripada tokoh-tokoh ahlu sunnah. Dan aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya, semoga Allah merahmati kedua orang tua Nabi…”Sedangkan mengenai Azar yang disebut dalam Alquran sebagai ayah Nabi Ibrahim AS :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [الأنعام : 74 [

Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Al An`am : 74) Sebagian Mufassirin menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Abihi (bapaknya) dalam ayat di atas bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim akan tetapi ayah asuhnya yang juga adalah pamannya.Hal ini juga diisyaratkan oleh perkataan Nabi SAW :

قال رسول الله : لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات

Rasulullah r bersabda “Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”Dalam hadits ini Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang Beliau adalah orang-orang yang suci, ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang musyrik karena jelas mereka telah dinyatakan najis dalam firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ )التوبة : ( 28 )(

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”(At-Taubah : 28)Sedangkan mengenai dua hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim , kalaupun kita sepakati keshohihannya, akan tetapi selayaknya kita tidak mengambil dzohir dari hadits tersebut karena kata اب dalam bahasa arab juga bisa dipakai untuk paman sebagaimana kisah nabi ibrohim diatas, sebab terdapat pula hadits-hadits lain tentang peristiwa dihidupkannya kedua orang tua Nabi SAW atas permintaan Beliau untuk kemudian diwafatkan kembali setelah mengimani kerasulannya, meskipun memang hadits-hadits tersebut adalah hadits dhaif akan tetapi telah dikuatkan dengan ayat-ayat di atas. Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin, Khotib Al Bagdadi, dan Daruqutni sengan sanad dhaif dari `Aisyah :

قالت حج بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم حجة الوداع فمر بي على عقبة الحجون وهو باك حزين مغتم فنزل فمكث عني طويلا ثم عاد إلي وهو فرح مبتسم فقلت له فقال ذهبت لقبر أمي فسألت الله يحييها فأحياها فآمنت بي وردها الله

Rasulullah berhaji bersama kami dalam haji wada kemudian melewatiku di atas uqbatul hajun dalam keadaan menangis, sedih, dan gundah, kemudian Beliau singgah dan menjauhiku dalam waktu lama lalu kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum lalu aku menanyainya maka beliau menjawab “ Aku pergi ke kubur Ibuku kemudian aku meminta kepada Allah untuk menghidupkannya kemudian Allah pun menghidupkannya lalu ibuku beriman kepadaku kemudian Allah mewafatkannya kembali .” Diriwayatkan Dari Imam Suhaili dalam kitab Raudhnya:

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم سأل ربه أن يحيي أبويه فأحياهما له ثم آمنا ثم أماتهما

“Sesungguhnya Rasulullah r memohon kepada tuhannya untuk menghidupkan kedua orangtuannya maka Allah hidupkan kedua baginya kemudian keduanya beriman lalu Allah mewafatkan keduanya.” Menanggapi hadits ini Imam Al Qurtubi Mengatakan “Tidak ada pertentangan antara hadis dihidupkan kembali orang tua Nabi SAW dan hadits mengenai tidak diidzinkannya Rasulullah SAW untuk beristigfar bagi keduanya (hadits Muslim di atas) karena hadits dihidupkanya orangtua nabi datang lebih akhir (terjadi dalam haji wada) dari hadits istighfar. Oleh karena itu Ibnu Syahin menjadikannya sebagai Nasikh (hadits yang menghapus) atas hadits sebelumnya”.Selain itu Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad, perowi hadits Muslim di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah “ dimana ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka,Riwayat di atas datang tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad
— bersama Putra Utama dan Yeni Kurnias Tuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: